Perlawanan kaum
quraisy yang semakin meningkat dan penyiksaan yang semakin kejam
terhadap pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW mendorong beliau untuk
memerintahkan kaum muslimin berangkat ke negeri Habsyi. Pilihan Nabi
Muhammad SAW jatuh kepada negeri Habsyi didasarkan atas pengetahuannya
sendiri bahwa al-Najasyi (Negus) yang berkuasa di negeri tersebut adalah
orang yang adil lagi bijaksana dan orang Quraisy tidak punya pengaruh
yang besar di negeri tersebut.
Hijrah yang pertama dalam sejarah Islam
ditandai dengan berangkatnya sepuluh orang laki-laki dan empat orang
perempuan ke negeri Habsyi. Peristiwa ini terjadi pada tahun 615 M dan
mengandung pengertian perpindahan dari dar al harbi ke dar al amni. Pemberangkatan
pertama yang berhasil itu menyebabkan pengikut-pengikut Nabi Muhammad
yang lain menyusul sehingga jumlahnya mencapai 83 orang laki-laki dan 18
orang perempuan. Mungkin karena peningkatan jumlah yang berhijrah ini,
sehingga sebagian sejarawan muslim berpendapat bahwa hijrah ke Habsyi
dilakukan sebanyak dua kali.
Nafsu kaum Quraisy Mekah untuk mematahkan
semangat perjuangan nabi Muhammad SAW sangat besar, sehingga mereka
mengutus Amr b. Ash dan Amr b. al-Walid untuk memohon kepada al-Najasyi
agar pelarian dari Mekah itu dikembalikan dengan alasan bahwa mereka
adalah pengacau agama dan perusak kekeluargaan serta kehormatan Quraisy.
Oleh karena semua tuduhan yang dikemukakan oleh orang-orang Quraisy
tidak terbukti maka permohonan mereka ditolak dan orang-orang Islam
tetap diizinkan untuk tinggal di Habsyi dengan jaminan keamanan.
Akhirnya mereka kembali dari Habsyi dengan rasa kecewa. Penolakan
tersebut menyebabkan kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul
al-Muthalib selama tiga tahun di lembah Bani Tsaqif.
Bertahun-tahun Nabi Muhammad SAW
menyerukan Islam di Mekah, tetapi hasil yang dicapai sangat minim dan
tidak seimbang dengan tenaga serta pengorbanan yang telah diberikan.
Pikiran-pikiran Nabi yang dinamis terasa buntu berhadapan dengan
masyarakat yang tradisionil, kaku, dan statis. Partner tercinta Nabi
Muhammad SAW yakni isterinya Khadijah dan pelindungnya yang disegani
kaum Quraisy yaitu pamannya Abu Thalib telah berpulang ke rahmatullah
dalam waktu yang hamper bersamaan. Kehilangan kedua orang tersebut
merupakan problem baru Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan da’wah
islamiyah di Mekah. Nabi Muhammad mencoba berkunjung ke Thaif. Penguasa
di negeri itu adalah keturunan Tsaqif yang masih kerabat dekatnya.
Keturunan Tsaqif yang berkuasa bergelar Kinanah, bergelar Abu Jalil,
Mas’ud yang bergelar Abul Kulal dan Habib. Ketiganya adalah anak dari
Amr b. Umair b. Auf al-Tsaqafi. Nabi Muhammad SAW memasuki Thaif
disertai oleh Zaid b. Harist. Nabi Muhammad memasuki perkampungan
orang-orang Thaif dan memperkenalkan islam kepada mereka. Nabi Muhammad
mengajak orang-orang Thaif seperti beliau mengajak orang-orang di Mekah.
Ajakan Nabi Muhammad membuat orang-orang Thaif marah dan mengusir
mereka serta melemparinya dengan batu. Harapan Nabi Muhammad terhadap
Thaif tidak terpenuhi. Namun perlakuan mereka yang kejam terhadap
dirinya dimaafkannya. Nabi Muhammad mendoakan mereka supaya mereka
diampuni oleh Allah dan dapat memberikan hidayah kepada kaumnya itu.
Nabi Muhammad yakin penduduk Thaif belum memahami hakekat ajaran-ajaran
yang dibawanya. Nabi Muhammad kembali ke mekah dalam keadaan sedih. Di
Mekah Nabi Muhammad selalu berfikir daerah mana yang cocok untuk
menyiarkan Islam selain Mekah.
Suatu peristiwa amat penting juga telah
terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW semasih berada di Mekah. Peristiwa
tersebut dikenal dalam ejarah islam dengan Isra’ Mi’raj. Peristiwa itu
terjadi setahun sebelum hijrah tepatnya 27 Rajab 621 M. Pada peristiwa
ini Allah SWT memperlihatkan tanda-tanda keagungan dan kekuasaan-Nya
sebagai hiburan untuk Nabi Muhammad yang sedang dirundung keseduhan.
Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sanagt berharga kepada Nabi
Muhammad. Selain itu, dia juga menerima perintah untuk melaksanakan
holat 5 waktu dalam sehari semalam.
Rupanya, peristiwa ini menjadi koreksi
bagi umat islam yang beriman. Siapa yang beriman dengan mantap dan siapa
saja yang rapuh imannya. Terbukti setelah Nabi Muhammad menyampaikan
peristiwa Isra’ Mi’raj ada diantara para pengikutnya yang murtad.
Sementara ada pula yang semakin mantap dank arena kecintaannya kepada
Nabi Muhammad mereka berani melakukan Hijrah ke daerah yang dianggap
lebih aman.
Persiapan untuk mengembangkan Islam di
Yastrib memasuki tahap permulaan. Dalam keadaan sedih karena perlakuan
orang-orang Quraisy serta kehilangan orang-orang yang dicintainya Nabi
Muhammad sempat mendapatkan usaha udara baru dari Yatrib. Pada tahun 620
M Nabi Muhammad sempat bertemu 6 orang Yastrib dari kabilah Khazraj
yang berziarah ke Mekah. Dalam pertemuannya tersebut Nabi menyeru kepada
mereka untuk ke agama Allah dan mereka menyambut dengan baik serta
menyatakan masuk Islam pada saat itu juga. Orang-orang Yatrib yang telah
menyatakan keislamannya di Mekah memberitahukan apa yang disaksikannya
kepada masyarakat Yastrib. Kedatangan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah
untuk mengajak manusia menyembah Allah dan menghentikan perselisihan
diantara sesame manusia. Hal ini bertepatan sekali dengan permasalahan
yang dihadapai masyrakat Yastrib yaitu perselisihan antara Bani Aus dan
Bani Khazraj. Karena itu, mereka menyambut Islam dengan suka cita dengan
harapan suku yang sudah 15 tahun berseteru tersebut dapat berdamai.
Pada tahun 621 M orang-orang muslim
Yastrib mendatangi Nabi Muhammad beserta 6 orang temannya yang lain
sebagai utusan dari kabilah Khazraj dan Aus. Keenam orang tersebut
menyatakan keislamannya di tempat yang bernama Aqabah. Peristiwa
pengislaman orang-orang Yastrib ini juga diikuti perjanjian kesetiaan
mereka kepada agama Allah. Perjanjian itu dikenal dengan perjanjian
Aqabah pertama. Diantara orang yang menyatakan keislamannya terdapat
seorang wanita yang bernama Afrah binti Abid bin Tsa’labah.
Ubadah bin Samit, salah seorang peserta
perjanjian menceritakan materi perjanjian sebagai berikut “kami tidak
akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, kami tiada akan
mencuri, kami tiada kan berzina, kami tiada akan membunuh anak-anak
kami, tiada akan fitnah memfitnah, dan tiada akan mendurhakai Nabi
Muhammad pada sesuatu yang tidak kami kehendaki”[1].
Perkembangan selanjutnya lebih menambah
keyakinan Nabi Muhammad SAW akan bahwa orang Yastrib bersungguh-sungguh
terhadap Islam. Mereka datang kembali pada 622 M dengan maksud
mengadakan perjanjian Aqabah 2 sekaligus mengundang beliau untuk
berhijrah ke Yastrib. Dibanding perjanjian yang pertama, perjanjian ini
mempunyai ciri tersendiri. Perjanjian Aqabah 2 diikuti 75 orang dari
Yastrib dan Nabi didampingi pamannya yang bernama Hamzah. Isi perjanjian
kesetiaan yang diucapkan tidak jauh berbeda dengan isi perjanjian
kesetiaan yang sebelumnya. Namun yang menarik dari perjanjian ini adalah
peserta yang memeluk agama islam emakin banyak. Dalam dua kali
perjanjian yang terjadi, Nabi mendapatkan kesan bahwa Islam telah siap
berkembang pesat di Yastrib. Fakta ini membuat Nabi Muhammad SAW
memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Yastrib dengan
sembunyi-sembunyi. Sementara pengikut-pengikutnya meninggalkan Mekah,
Nabi Muhammad bertahan di Mekah bersama Abu Bakar dan Ali b. Abi Thalib.
Perpindahan kaum muslimin secara sembunyi-sembunyi akhirnya diketahui
oleh kaum Quraisy karena kosongnya beberapa bagian kota Mekah dari
kehidupan.
Nabi Muhammad hanya mengabdikan dirinya
untuk agama Allah. Setelah Nabi Muhammad melihat pengikutnya sudah tidak
ada di tanah Mekah, maka Nabi Muhammad SAW meninggalkan Mekah di
tengah-tengah kesibukan dan seriusnya orang Quraisy untuk membunuh
dirinya. Kaum Quraisy melakukan dan merencanakan hal itu karena takut
Nabi Muhammad dapat bergabung dengan pengikutnya di Yastrib. Nabi
Muhammad meninggalkan Mekah pada waktu malam dan melalui ujian-ujian
berat. Setelah melalui beberapa ujian akhirnya atas izin Allah Nabi
Muhammad SAW sampai di Yastrib.
Pada dasarnya, Nabi Muhammad hijrah dari
Mekah menuju Yastrib merupakan perintah dari Allah SWT tetapi juga
terjadi sebab alamiah lainnya. Adapun sebab alamiahnya adalah semakin
kejamnya perlakuan kafir Quraisy terhadap kaum muslimin yang ada di
Mekah, kaum muslimin yang ada di Mekah selalu dimusuhi, undangan kaum
Khazraj dan Aus supaya Nabi Muhammad hijrah ke Mekah, dan Islam tidak
berkembang di Mekah. Dari beberapa alasan tersebut, alasan yang menjadi
pertimbangan Nabi Muhammad adalah Undangan dari kabilah Khazraj dan
kabilah Aus yang sudah lama berseteru untuk mendamaikan mereka.
Proses Hijrah
Kaum Quraisy berencana untuk membunuh
Nabi Muhammad SAW pada malam hari. Hal ini direncanakan karena ketakutan
orang Quraisy akan hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Yastrib untuk
memperkuat diri di sana. Semua rencana yang digendakan oleh orang
Quraisy dengan izin Allah terdengar oleh Nabi Muhammad SAW sehingga dia
dapat mempersiapkan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan
lebih dini. Memang tidak ada orang yang menyangsikan bahwa Nabi Muhammad
SAW menggunakan kesempatan itu untuk hijrah tetapi karena begitu
kuatnya dia menyimpan rahasia sehingga tidak ada seorangpun yang
mengetahui, sekalipun itu Abu Bakr. Ketika dia sudah mengetahui keadaan
Quraisy dan kaum Muslimin sudah tidak ada lagi yang tinggal kecuali
sebagian kecil Nabi Muhammad berkeinginan untuk hijrah ke Yastrib. Dalam
dia menantikan perintah Tuhan yang mewahyukan kepadanya supaya hijrah,
ketika itulah ia pergi ke rumah Abu Bakr dan memberitahukan, bahwa Allah
telah mengijinkan dia hijrah. Kemudian Nabi Muhammad SAW meminta Abu
Bakr untuk menemaninya dalam hijrahnya, yang kemudian diterima baik oleh
Abu Bakr.
Di sinilah dimulainya kisah yang paling
cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran
yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman. Sebelum
peristiwa itu Abu Bakr memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang
diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah bin Uraiqiz sampai nanti tiba
waktunya diperlukan. Tatkala kedua orang itu sudah siap-siap
meninggalkan Mekah mereka sudah yakin sekali, bahwa Quraisy pasti
membuntuti mereka. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk
menempuh jalan lain dari yang biasa, juga akan berangkat bukan pada
waktu yang biasa.
Ali di Tempat Tidur Nabi
Pemuda-pemuda yang sudah disiapkan
Quraisy untuk membunuhnya malam itu sudah mengepung rumahnya, karena
dikhawatirkan dia akan lari. Pada malam akan hijrah itu pula Nabi
Muhammad SAW membisikkan kepada Ali bin Abi Talib supaya memakai
mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat
tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti dia tinggal dulu di
Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan
kepadanya. Sekalipun dalam kepungan para pemuda Quraisy, atas izin Allah
Nabi Muhammad SAW berhasil keluar dari rumahnya dengan menaburkan pasir
ke muka para pemuda Quraisy yang sedang mengepung rumah beliau seraya
berkata: “alangkah kejinya mukamu”. Tidak lama setelah Nabi Muhammad
meninggalkan rumahnya, para pemuda yang sudah disiapkan kaum Quraisy,
dari sebuah celah mengintip ke tempat tidur Nabi Muhammad. Mereka
melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mereka puas karena
beranggapan bahwa Nabi Muhammad belum lari. Mereka semua tidak
mengetahui kalau Nabi Muhammad telah keluar dari rumahnya dan digantikan
oleh Ali bin Abi Thalib di tempat tidurnya. Para pemuda Quraisy
akhirnya masuk ke rumah beliau dengan penuh nafsu untuk membunuh tetapi
mereka hanya mendapatkan Ali bin Abi Thalib yang sedang tidur. Mereka
kecewa dan tidak percaya dengan segala hal yang terjadi. Hal ini terjadi
hanya karena pertolongan Allah.
Di Gua Tsur
Menjelang larut malam waktu itu, dengan
tidak setahu mereka Nabi Muhammad SAW sudah keluar menuju ke rumah Abu
Bakr. Kedua orang itu kemudian keluar dari jendela pintu belakang, dan
terus bertolak ke arah selatan menuju gua Tsur. Jalan yang ditempuh oleh
mereka berdua adalah jalan yang tidak mungkin dilewati manusia. Hal ini
dilakukan supaya para pemuda Quraisy yang mengejar tidak berfikiran
untuk mengejarnya melalui jalan itu. Pada waktu itu tujuan kedua orang
itu melalui jalan sebelah kanan. Jalan sebelah kanan merupaka jalan yang
tidak mungkin ditempuh manusia karena banyaknya tebing yang ada.
Tiada seorang yang mengetahui tempat
persembunyian mereka dalam gua itu selain Abdullah bin Abu Bakr, kedua
orang puterinya Aisyah dan Asma, dan pembantu mereka ‘Amir bin Fuhaira.
Tugas Abdullah sehari-hari berada di tengah-tengah Quraisy sambil
mendengar-dengarkan permufakatan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW dan
pada malam harinya disampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW beserta
ayahnya. Amir hanya bertugas menggembalakan kambing Abu Bakr dan ketika
menjelang sore diistirahatkan, kemudian mereka memerah susu dan
menyiapkan daging. Apabila Abdullah bin Abu Bakr keluar kembali dari
tempat mereka maka datang Amir yang mengikutinya dengan kambingnya guna
menghapus jejaknya.
Kedua orang itu tinggal dalam gua selama
tiga hari. Sementara itu pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari
mereka tanpa mengenal lelah. Betapa tidak. mereka melihat bahaya sangat
mengancam kalau mereka tidak berhasil menyusul Nabi Muhammad dan
mencegahnya berhubungan dengan pihak Yatsrib. Selama kedua orang itu
berada dalam gua, tiada hentinya Nabi Muhammad SAW menyebut Nama Allah.
Kepada-Nya dia menyerahkan nasibnya dan kepada-Nya pula segala persoalan
akan kembali. Abu Bakr memasang telinga dengan benar-benar ketika
berada di dalam gua. Ia ingin mengetahui adakah orang-orang yang sedang
mengikuti jejak mereka itu berhasil.
Pemuda-pemuda Quraisy datang. Mereka
membawa pedang dan tongkat sambil mondar-mandir mencari ke segenap
penjuru. Tidak jauh dari gua Tsur, mereka bertemu dengan seorang
penggembala, kemudian bertanya. Apakah kalian melihat Muhammad?
penggembala itu pun menjawab, “Mungkin saja mereka dalam gua itu, tetapi
saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.”
Ketika mendengar jawaban gembala itu Abu
Bakr keringatan. Abu Bakr khawatir jika para pemuda Quraisy akan
menyerbu ke dalam gua. Dia menahan napas, tidak bergerak, dan hanya
menyerahkan nasibnya kepada Allah. Kemudian orang-orang Quraisy datang
menaiki gua itu, tetapi kemudian ada yang turun lagi. “Kenapa kau tidak
menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya. Sebagian dari mereka
menjawab “Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada
sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. Jadi tidak mungkin mereka
berada di situ. Nabi Muhammad SAW makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu
Bakr makin ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan
Muhammad berbisik di telinganya: “Jangan bersedih hati, Allah bersama
kita.”
Sarang laba-laba, dua ekor burung dara
dan pohon merupakan mu’jizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah
hidup Nabi mengenai masalah persembunyian dalam gua Tsur itu. Padahal
semua itu sebelumnya tidak ada tetapi setelah Nabi Muhammad dan Abu Bakr
berada didalam atas izin Allah semuanya terjadi. Sehubungan dengan
mujizat ini Dermenghem mengatakan: “Tiga peristiwa itu sajalah mujizat
yang diceritakan oleh sejarah Islam yang benar-benar: sarang laba-laba,
hinggapnya burung dara dan tumbuhnya pohon-pohonan. Dan ketiga keajaiban
ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi[2].”
Banyak ahli sejarah menyebutkan bahwa
“Mereka berdua menuju ke sebuah gua di Gunung Tsur, sebuah gunung di
bawah Mekah kemudian masuk ke dalamnya. Abu Bakr meminta anaknya
Abdullah supaya mendengar-dengarkan apa yang dikatakan orang tentang
mereka itu siang hari, kemudian sorenya supaya kembali membawakan berita
yang terjadi hari itu. Amir b. Fuhaira menggembalakan kambingnya siang
hari dan diistirahatkan kembali bila sorenya dia kembali ke dalam gua
untuk menghilangkan jejak Abdullah b. Abu Bakr. Ketika hari sudah sore
Asma datang membawakan makanan yang cocok buat mereka Rasulullah SAW dan
ayahnya. Seperti itulah para ahli sejarah menggambarkan keadaan Nabi
Muhammad dan Abu Bakr ketika mereka berada di gua Tsur.
Pengejaran Quraisy terhadap Muhammad
untuk dibunuh itu serta tentang cerita gua ini datanglah firman Allah:
“Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot membuat
rencana terhadap kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau
mengusir kau. Mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana pula.
Allah adalah Perencana terbaik.[3]
“Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka
Allah juga Yang telah menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang
kafir (Quraisy). Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya
berada dalam gua. Waktu itu dia berkata kepada temannya itu: ‘Jangan
bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka Tuhan lalu memberikan
ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu
lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang
rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan
Bijaksana.”[4]
Berangkat Ke Yastrib
Pada hari ketiga, mereka berdua sudah
mengetahui bahwa situasi sudah tenang kembali mengenai diri mereka.
Orang yang disewa sebagai penunjuk jalan datang membawakan unta kedua
orang itu serta untanya sendiri. Asma puteri Abu Bakr juga datang
membawakan makanan. Oleh karena ketika mereka akan berangkat tidak ada
sesuatu yang dapat dipakai menggantungkan makanan dan minuman pada
pelana barang, Asma, merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya dipakai
menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan. Karena itulah
dia diberi nama “dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua).
Mereka berangkat dan melanjutkan
perjalanan dengan perbekalan yang diberikan oleh putrinya. Karena mereka
mengetahui pihak Quraisy sangat gigih dan hati-hati sekali membuntuti
mereka maka dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi Muhammad dan Abu Bakr
mengambil jalan yang tidak pernah dilalui manusia. Abdullah b. Uraiqit
dari Banu Du’il sebagai penunjuk jalan, membawa mereka hati-hati sekali
ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai
Laut Merah. Oleh karena mereka melalui jalan yang tidak biasa ditempuh
orang, penunjuk jalan membawa mereka ke sebelah utara di seberang pantai
itu, dengan agak menjauhinya, mengambil jalan yang paling sedikit
dilalui orang.
Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya
sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas kendaraan. Tidak lagi
mereka pedulikan kesulitan dan rasa lelah. Mereka hanya percaya bahwa
Allah akan menolong mereka.
Cerita Suraqa B. Ju’syum
Orang Quraisy mengadakan sayembara bagi
siapa saja yang dapat mengembalikan mereka berdua atau dapat menunjukkan
tempat mereka maka hadiah dan kehormatan menantinya. Wajar sekali hal
ini menarik hati masyarakat pada waktu itu. Tidak lama setelah sayembara
diadakan, tersiar kabar bahwa ada seseorang yang melihat serombongan
dengan tiga unta. Ternyata dugaan mereka tidak meleset dan mereka adalah
mangsa yang selama ini mereka cari. Waktu itu Suraqa b. Malik b.
Ju’syum hadir dan mengatakan mungkin mereka keluarga si fulan dengan
maksud mengelabui orang itu, sebab dia sendiri ingin memperoleh hadiah
seratus ekor unta. Tidak lama kemudian Suraqa b. Ju’yum mendatangi
tempat yang dimaksud dan dia menemukan Nabi Muhammad beserta kedua
temannya sedang beristirahat di bawah naungan sebuah batu besar embari
menyantap bekal yang diberikan oleh asma, putri Abu bakr. Pada saat itu,
kekuasaan Allah ditunjukkan. Setiap kali Suraqa b. Ju’syum mendekati
rombongan Nabi Muhammad kudanya selalu tersungkur. Hal itu berulang
sampai empat kali. Suraqa yang percaya kepada dewa berfikir bahwa itu
adalah pertanda buruk sehingga dia mengurungkan niatnya dan kembali ke
Mekah dengan membawa pesan tertulis yang ditulis Abu Bakr. Surat itu
berisi supaya jika ada yang ingin mengejar muhajir besar itu untuk
dikaburkan.
Muhammad dan kawannya itu kini berangkat
lagi melalui pedalaman Tihama dalam panas terik yang dibakar oleh pasir
Sahara. Mereka melintasi batu-batu karang dan lembah-lembah curam.
Mereka tidak mendapatkan sesuatu yang akan menaungi diri mereka dari
letupan panas tengah hari, tak ada keamanan dari apa yang mereka takuti
atau dari yang akan menyerbu mereka tiba-tiba, selain dari ketabahan
hati dan iman yang begitu mendalam kepada Tuhan.
Selama tujuh hari terus-menerus mereka
berjalan. Mereka hanya beristirahat di bawah panas membara musim kemarau
dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir. Hanya
karena adanya ketenangan hati kepada Allah dan adanya kedip
bintang-bintang yang berkilauan dalam gelap malam itu, membuat hati dan
perasaan mereka terasa lebih aman. Mereka selalu yakin jika allah akan
selalu bersama mereka.
Muslimin Yastrib Menantikan Kedatangan Rasul
Jarak mereka dengan Yastrib kini sudah dekat sekali.
Selama mereka dalam perjalanan yang
sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi Muhammad dan
sahabatnya sudah tersiar di Yastrib. Penduduk kota sudah mengetahui
betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari kaum Quraisy yang
terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu, semua kaum Muslimin tetap
tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh
rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di
antara mereka yang belum pernah melihatnya meskipun sudah mendengar
tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan
pendiriannya. Semua itu membuat mereka semakin rindu ingin bertemu.
Orangpun sudah akan dapat mengira-ngirakan, betapa dalamnya hati mereka
itu terangsang tatkala mengetahui, bahwa orang-orang terkemuka Yatsrib
yang sebelum itu belum pernah melihat Nabi Muhammad sudah menjadi
pengikutnya hanya karena mendengar dari sahabat-sahabatnya saja.
Muhammad Memasuki Medinah
Sementara kaum Muslimin Yastrib menunggu
kedatangan Nabi Muhammad, tiba-tiba datang seorang Yahudi yang sudah
mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu berteriak kepada mereka
(muslim Yastrib). “Hai, Banu Qaila ini dia kawan kamu datang!”. Nabi
Muhammad sampai di Yastrib pada hari Jum’at. Nabi Muhammad pun melakukan
shalat jum’at di Yastrib. Masjid yang terletak di perut Wadi Ranuna
menjadi saki akan kedatangan Nabi Muhammad beserta sahabatnya. Kaum
Muslimin dating dan masing-masing berusaha ingin melihat serta
mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini
belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman
iman, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang.
Orang-orang terkemuka di Madinah
menawarkan diri supaya dia tinggal di rumah mereka dengan segala
persediaan dan persiapan yang ada. Tetapi dia meminta maaf kepada mereka
dan kembali ke atas unta betinanya sembari memasangkan tali keluan pada
untanya. Kemudian dia berangkat melalui jalan-jalan di Yastrib, di
tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan
sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yastrib, baik
Yahudi maupun orang-orang Pagan menyaksikan adanya hidup baru yang
bersemarak dalam kota mereka. Mereka menyaksikan kehadiran seorang
pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj,
yang selama 15 tahun bermusuhan dan berperang. Tidak pernah terlintas
dalam pikiran mereka – pada saat ini, saat transisi sejarah yang akan
menentukan tujuannya – akan memberikan kemegahan dan kebesaran bagi kota
mereka selama sejarah ini berkembang.
Disela-sela berbagai permintaan untuk
tinggal, Nabi Muhammad berpikir untuk adil sehingga dia membiarkan
untanya itu berjalan kemana yang dia inginkan. Sesampainya di sebuah
tempat penjemuran kurma, kepunyaan dua orang anak yatim dari
Banu’n-Najjar, unta itu berhenti. Pada saat itulah Nabi Muhammad turun
dari untanya dan bertanya: “Kepunyaan siapa tempat ini?” tanyanya.
Mereka pun menjawab “Kepunyaan Sahl dan Suhail b. ‘Amr,” jawab Ma’adh b.
‘Afra’. Dia adalah wali kedua anak yatim itu. Fakta ini membuat kaum
muslimin Yastrib terkagum-kagum dengan keadilan-Nya. Setelah
berincang-bincang Nabi Muhammad SAW meminta supaya di tempat untanya
berhenti itu didirikan masjid dan tempat tinggalnya.
Refleksi hijrah Nabi Muhammad SAW
Hijrah Nabi mengandung berbagai arti
penting bagi umat Islam. Salah satunya adalah pentingnya membaca keadaan
demi tugas mulia. Perjuangan yang gigih akan memberikan dampak yang
positif dikemudian hari. karena itu hindari loyo dan mudah menyerah.
perjuangkan cita-cita sampai tetes keringat terahir.
No comments:
Post a Comment